Minggu, 15 November 2009

Nikmatnya Besyukur

Semoga dengan membaca tulisan ini, kita semakin mengetahui akan ketidakmampuan kita sebagai seorang hamba. Karena semua adalah milik Allah Azza Wa Jalla.

Sumber syukur adalah pengetahuan yang diberikan oleh Allah, bahwa tidak ada satu nikmatpun yang diperoleh berkat daya dan kekuatannya, akan tetapi semuanya ia peroleh berkat kemurahan dan rahmat Allah.

Puncak syukur adalah menggunakan setiap nikmat yang Allah berikan untuk berbuat ketaatan. Jika nikmat-nikmat itu tidak kau gunakan untuk menaati-Nya, berarti kamu tidak mensyukuri nikmat itu. Dan jika nikmat itu kau gunakan untuk bermaksiat kepada-Nya, maka kau telah terjerumus dalam kekufuran (nikmat), dan akan menyebabkan nikmat berubah menjadi bencana. Termasuk syukur adalah banyak memuji Allah dan merasa senang dengan nikmat yang Dia berikan. Sebab nikmat-nikmat itu menjadi perantara yang akan menyampaikannya kepada Allah, sarana yang mendekatkan dirinya kepada Allah, atau karena nikmat itu merupakan tanda perhatian (inayah) Allah kepada hamba-Nya.

Jika rasa syukur ini terus berlangsung, Allah akan membuat hamba itu mengenali dirinya. Ia akan memandang dirinya sebagai seorang budak dan hamba Allah. Ia akan melihat dirinya dan semua yang berhubungan dengannya : jasad, indra, akal, keluarga, harta, bahkan bumi, langit dan segala sesuatu yang terdapat pada keduanya adalah milik Allah. Kesadaran ini terus berlangsung sampai ketika sholat, misalnya, ia akan melihat bahwa sholat itu dapat ia kerjakan karena perintah dan pertolongan Allah. Dalam hatinya timbul rasa yang lebih peka dari orang lain.

Ia menghayati dalam hatinya, bahwa air yang ia gunakan untuk berwudhu adalah milik Allah, tanah (bumi) tempat ia shalat adalah MILIK ALLAH, dia dan segala yang ia kenakan adalah MILIK ALLAH, tidak ada sesuatu yang merupakan milik atau berasal darinya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan diri dan amalnya adalah MILIK ALLAH. Kesadaran seperti ini benar-benar meresap dan menguasai hatinya. Ia mengetahui bahwa selamanya ia tidak akan pernah dapat mensyukuri salah satu nikmat Allah, apalagi semuanya. Sebab, dirinya dan semua sarana amalnya adalah MILIK ALLAH. Semua nikmat yang ia terima berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla, lalu bagaimana ia mensyukuri semua nikmat itu?

Perasaan syukur timbul karena seseorang tidak memiliki apa-apa diperbolehkan untuk menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Ia akhirnya menyadari bahwa kebutuhan kepada Allah merupakan kebutuhan yang hakiki. Perasaan ini selalu meliputinya dan tidak sedetikpun hilang. Setiap detik dia merasa sangat butuh kepada majikannya (Allah), setiap detik dia merasa berkhidmat kepada-Nya, melaksanakan perintah Tuannya, memohon pertolongan-Nya dan berdiri di amabang pintu-Nya. Ia tidak memandang dirinya memiliki usaha, amal atau pun tempat berlindung kecuali kepada-Nya. Sejak awal ia tidak lagi memandang amal-amalnya. Semua keinginannya lenyap. Setiap kali perasaan butuhnya kepada Allah bertambah, dan pengetahuannya tentang keagungan Allah juga bertambah. Ia kemudian menyadari bahwa andaikan seorang hamba bersyukur kepada Allah dengan syukur alam, maka ia belum mempu bersyukur sesuai keagungan Allah. Oleh karena itu tidak ada seorangpun dapat menyembah-Nya dengan sebenar-benarnya peribadatan yang menjadi halNya, dan tidak ada seorangpun yang dapat bersyukur kepada-Nya dengan sesungguh-sungguhnya, tidak ada seorangpun dapat memuji-Nya dengan sebenar-benar pujian.

0 komentar:

Poskan Komentar